Oleh: donbull | Juli 12, 2012

hikmat

Dulu, ada sebuah kerajaan hebat yang dinaungi oleh para dewa. Kerajaan itu punya pemimpin yang adil dan berwibara. Kerajaan yang punya segalanya. Kekayaan alam yang berlimpah, lokasi yang strategis, perdagangan yang maju, hingga armada perang yang sangat kuat. Armada lautnya punya puluhan kapal perang dengan persenjataan lengkap, belum lagi ratusan ribu prajurit perang pilihan. Rakyat di kerajaan tersebut hidup dengan aman, damai, dan tenteram. Rakyatnya penuh semangat mengolah kekayaan alam yang begitu melimpah. Langit biru yang begitu indah. Para prajurit gagah berani begitu antusias, ikhlas, dan berani melingdungi kerajaan dari serangan musuh. Tak mau kalah, raja dan para petinggi kerajaan sangat besar cinta kasih, kepedulian, dan pengabdiannya pada rakyatnya. Hati-hati para pemimpin dan rakyatnya penuh dengan kebaikan dan cinta kasih. Penuh kepedulian nan tulus. Pemimpin untuk rakyatnya dan rakyat untuk pemimpinnya. Sempurna. Mereke hidup begitu indahnya.

Sayang, roda hidup itu berputar. Waktu melesat cepat. Jauh meninggalkan kejaan zaman itu.Sekarang, semua orang di kerajaan itu berubah. Mereka mulai meninggalkan hati baik di dalam dirinya. Mereka turut patuh pada hawa nafsu dan keserakahan. Kekayaan alam yang dulu melimpah kini kritis akibat keserakahan yang tidak bertanggung jawab. Rakyatnya sangat malas bekerja, kejahatan di mana-mana. Raja dan para petinggi kerajaan sibuk mengurus perut masing-masing. Langit yang dulu biru indah sekarang sekarang merah hitam oleh hawa nafsu dan keserakahan yang diagung-agungkan.Sedikit sekali keabaikan yang tersisa. Sempurna. Mereka hidup begitu buruknya.

Dewa-dewa yang bersemayam di langit marah melihat itu semua.Meja perundingan ramai. Para dewa berunding hukuman apa yang pantas buat mereka. Akhirnya dibuatlah keputusan besar. Mereka mencabut apa yang disebut hikmat dari manusia. Hikmat itulah yang  menjadi inti dari kebaikan  hati. Darinyalah muncul kebaikan, kepedulian, semangat, antusiasme, cinta, kasih sayang, dan sifat-sifat mulia lainnya. Sayang pilihan penduduk pada hawa nafsu membuat hikmat ini tak lagi berguna.

Wuuunnng. Tiba-tiba ribuan kilatan cahaya dari bumi menghujam ke langit. Sekejap. Seluruh hikat itu naik ke atas langit tidak bersisa secuilpun. Akan tetapi kemudian timbul masalah baru. Kemana hikmat itu kemudian akan disembunyikan. Meja perundingan kembali ramai.Lebih seru. Dewa gunung bersuaru, “Kita sembunyikan saja di gunung yang paling tinggi di dunia.”Dewa waktu menimpali,” Jangan, setinggi apapun gunungnya suatu saat mereka akan menemukannya. Jangankan gunung tertinggi, dalam beberapa ratus tahun kedepan mereka niscaya sudah bisa menginjak bulan.”Lanjut, Dewa laut, “Bagaimana kalau kita letakkan di dasar laut paling dalam?” Dewa Ilmu pengetahuan berkata, “Itu kemungkinan juga lambat laun akan bisa ditemukan oleh mereka. Mereka dikaruniai kecerdasan yang luar biasa.” Perungdingan semakin seru. Banyak yang usul dan banyak pula yang ditolak. Akhirnya disaat terakhir dewi kearifan berkata, “tempat yang paling baik untuk menyembunyikan hakikat tersebut adalah di  hati sanubari manusia yang paling dalam. Untuk menemukannya lebih susah dari pada terbang ke bulan maupun menyelam ke dasar laut yang paling dalam.” Sepakat, semua dewa mengangguk pelan. Tempat yang sempurna. Sempurna. Mereka akah hidup dengan susah payah untuk menemukannya.


Responses

  1. menggali hikmah, menemukan hakikat, merangkai arti dan makna.
    Memang sulit karena seringkali logika terdepankan mengawali, mendominasi, dan merajai.
    Semoga hati termenangkan di atas logika… :)
    Salam kunjung…kunjung balik ya.

  2. amiiin


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: