Oleh: donbull | Februari 6, 2012

rindu

aku rindu

sahabat, sungguh aku rindu.
rindu semua yang telah kita lalui bersama. Rindu teramat akan cerita cinta kita yang dulu.
aku rindu
ketika kita memulainya dengan bangun tidur kemudian ke masjid bersama dan saat itu ternyata masih jam setengah dua
aku rindu
mendengar ibumu marah2 hanya karena kamu lebih sering bersih-bersih masjid daripada bersih-bersih rumah
lebih sering tidur di masjsid daripada di rumah
rindu mendengar ibumu marah2 karena dulu sapu lidi rumah hilang, lupa tertinggal seusai bersih2 masjid, itu berulang sampai 2 atau tiga kali
aku rindu
bunyi ketokan dinding kayu sebelah kamarku oleh tanganmu ketika subuh menjelang
rindu seruanmu, sura khasmu, bahkan teriakan-teriakanmu ketika aku susah dibangunkan
aku rindu
malam gelap, melebah, pindah dari satu rumah ke rumah,mebangunkan lebah-lebah yang lain, menyambut indahnya pagi di Al-huda
rindu, malam gelap, menyusuri jalan setapak, bergantian kita memegang obor sembari menerangi aliran sungai untuk berwudlu yang lain
rindu sekali, malam gelap, listrik mati dan hujan lebat, engkau datang dengan payung hijaumu mengajakku bergegas berjama’ah
rindu sangat kata-katamu, “kalau hujan lebat, listrik mati kaya gini pasti pahalanya banyak kalau mau bela-belain ke masjid, walaupun gelap, InsyaAllah kelak Allah kasih cahaya yang lebih terang dari cahaya matahari”
aku rindu, malam gelap, duduk bersama dengan lilin ditengah, kita mengulang-ulang do’a2 dan hadist2 itu bergantian, 4,5, sampai puluhan kali
aku rindu sahabat, dengan kejengkelan-kejengkelan di hati saat itu.
jengkel ketika kau datang ke rumah, mengajak ke masjid padahal acara tv sedang bagus-bagusnya
jengkel saat jatah adzan, iqamah, musyawarah milikku kau ambil begitu saja tanpa izin dulu
jengkel sekali ketika ba’da magrib, mengaji bersama2, bergantian menyimak,lalu ku hanya dapat jatah menyimak hanya karena banyak sekali peserta ngajinya. Padahal aku kan juga ingin menunjukkan suara indahku
namun ketika aku membaca, aku juga rindu selaanmu di tengah bacaanku. Aku yang sering terbalik “ya” dengan “ta” dan “ba” dengan “na”. Masih susah teliti mana yang di bawah sama di atas perahu. Dulu, aku kadang jengkel dengan hal itu, tapi sekarang aku rindu T,T
aku rindu duhai sahabat, masih banyak buluh perindu di hati yang tumbuh subur hingga saat ini. Rindu yang inilah rindu yang itulah.
wahai sahabat yang kini beratus kilometer di barat sana, aku tahu dalam hati kecilmu pasti ada buluh perindu yang sama. Sekarang, mungkin banyak amanah yang telah Allah berikan kepadamu. Entah itu pekerjaanmu, cita-citamu, dan istri dan anakmu yang masih dikandungnya.Aku berdoa kesuksesan dan keberkahan untukmu serta keluarga kecilmu.
Sahabat, ingin sekali mengulangi semua yang dulu. Tahun ini dan tahun2 mendatang mungkin belum ada kesempatan. Namun, ketika kita tua nanti, ketika kita kembali ke perilaku anak-anak kecil lagi semoga kita bisa mengulanginya, sebagaimana waktu kita itu ketika kita masih kecil.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: