Oleh: donbull | Desember 12, 2011

pagi buta pergi ke pasar

kebiasaan ke pasar habis subuh akan jadi hal yang selalu menyebalkan. Bapak mewajibakannya rutin setiap hari dan ngga kenal hari libur, hari bersejarah dan hari penting. Rutinitas itu berlangsung semenjak SD dan berlangsung terus hingga SMA, bahkan kalau sekarang di rumah otomatis habis subuh dari masjid saya akan langsung ke pasar. Ngga boleh kemana-mana. Pagi buta, matahari belum kelihatan ujungnya, kokok ayam doang yang baru terdengar ramai, dengan senter di tangan, mata yang masih ngantuk sekali, nyawa yang belum kembali dari tidur, saya sudah harus ke pasar. Kadang terlalu, waktu SD sama SMP bapak sering bangunin saya sebelum subuh dan menyuruh solat subuh padahal belum masuk waktunya T,T. Pertama-tama dulu, saya bilang “that’s really ignoring” (pikiran waktu dulu). Anehnya, saya itu ngga bisa menolak kalau diminta sama bapak (sunatullah kali). Meski dengan wajah manyun setengah hati, kaki yang rasanya lebih berat dari biasanya, tetep saja saya melangkah berangkat.T,T Hwaaaaa, saya sudah harus ke pasar jam 4 pagi, temen-temen saya masih pada mimpi kemana-mana.Mimpiin ini itu. Mimpiin anak lurah tetangga desa. Menyebalkan.

Kadar menyebalkan aktifitas ini kemudian meningkat satu level lebih tinggi saat bulan ramadhan tiba. Kebiasaan rutin, lumrah, dan menyenangkan, lepas subuh biasanya temen-temen semua pada jalan-jalan, sepeda-sepedaan sambil godain anak-anak cewek yang lain. Bisa main petasan, menghirup udara segar, duduk-duduk di jembatan kampung sambil liat derasnya aliran sungai atau mungkin lihat anak-anak gadis desa tetangga yang lewat.Siapa tahu si anak pak lurah lewat.eaaaaa. Sementara beberapa teman saya bisa melakukan semua aktifitas yang menyenangkan tersebut, saya harus ke pasar. Nanti saya kecapekan terus batal puasanya gimana? Saya kan masih kecil, puasa saja masih sering setengah hari. T,T. Saking kepengen ikut jalan-jalan Kadang saya nyuri-nyuri waktu, molor 20 sampai 30 menitan buat ikut jalan-jalan. Hehehe, sampai pasar absen doang. Curang saya. Tapi pasti dimarahin bapak, tidak pernah ngga.

kadar menyebalkan aktifitas ini kemudian kembali akan naik 2 level lebih tinggi saat waktu di pasar saya ketemu temen cewek atau guru perempuan saya yang sedang berbelanja. Dasar saya anak kecil tahunya malu doang, Pengennya yang enak-enak doang, belum gedhe, belum tahu susahnya cari uang. haha, perasaan waktu masih SD dan SMP kelas satu sering sekali sakit perut dan minta ke kamar mandi waktu buat menghindari ketemu sama mereka.

kadar menyebalkan aktifitas ini akan kembali naik 10 kali lipat ketika ada ulangan di sekolah dan akan melejit jauh menjadi 1000 x lipat ketika ujian nasional tiba. Hwaaaaa, pagi kan saya mau belajaaar T.T. kan enak belajar waktu pagi-pagi, pikirannya masih fresh. Banyak yang bisa masuk. Nanti kalau dapet jelek gimana dong? T.T. Nanti kalau ngga peringkat satu lagi gimana ni.. T,T. Suer, sudah sangat menyebalkan sekali. Rasanya sudah mau nangis saja. Padahal seminggu sebelum sebulum UAN SD dan SMP saya dah wanti-wanti dan mengultimatum bapak buat ngasih libur biar belajar di rumah. Eh pas paginya mau ujian, tetep aja habis subuh dibangunin suruh ke pasar. Ibu kadang belain, tapi yah saya lebih berpikir ke pasar itu kebutuhan saya lebih dari kebutuhan buat ujian hari ini. hahahaha. Misal saya merengek protes, bapak cuma bilang, “Belajarnya ya tadi malam.” Perasaan tadii malem saya sudah belajar deh. :P. Hari-hari diwaktu pagi, di pasar, saat ujian SD dan SMP selalu menyebalkan, sangat-sangat menyebalkan, mengesalkan. Wajah manyun terheboh saya pasti ada di situ. Untungnya SMA saya sudah kos di tempat yang jauh, coba ngga, pasti wajah manyun saya bisa mecahin rekor waktu SMP.

Pergi ke pasar habis subuh selalu akan jadi hal yang “menyebalkan”. Memang sangat menyebalkan. Saya bilang menyebalkan sekali. Akan tetapi, seiring kebiasaan itu berlanjut beberapa tahun dan juga kondisi ayah dan ibu yang berubah, rasa menyebalkan itu perlahan hilang.Ternyata di balik semua aktifitas itu banyak manfaatnya. Pikiran waktu kecil memang suka aneh2, belum dewasa (emangnya sekarang udah :P), masih suka malu, belum ngerti susahnya cari rejeki. Ternyata eh ternyata, dari kebiasaan itu juga timbul banyak kebiasaan baik. Saya  jadi biasa bangun pagi dan itu masih terasa sampai sekarang. Semoga saja bisa terus berlanjut. Bisa menghirup udara pagi yang bersih, sejuk, dan segar. Saya juga terbiasa belajar dalam waktu yang sangat mepet tapi hasilnya tetep ngga mepet, lumayanlah. Belajar bekerja (meski sedikit) dan bertanggungjawab atasnya. Belajar realistis dengan keadaan. Belajar mengerti kondisi orang tua. Kalaupun ngga bisa jalan-jalan habis subuh tak apalah, bisa cuci mata di pasar. Anak lurah tetangga desa kadang juga belanja di pasar waktu pagi. Eaaaa menghibur diri. Kalau temen tau guru lihat saya di pasar pagi-pagi bantuin orang tua, saya kan harusnya bangga. Kesimpulannya, saya anak yang rajin dari berbakti (kesimpulan dari hongkong). Waktu sudah kos di SMA, aktifitas ini sudah sangat ngangenin, apalagi sekarang, kangen sekali malahan. Paling cuma bisa waktu libur semester. Saya yakin, kangen itu bakalan ngga kebayang lagi kalau nanti kerja di tempat yang jauh di sana.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: