Oleh: donbull | Desember 4, 2011

ibu itu memang seorang pedagang

Matahari kota tepat berada di atas kepala. Siang ini benar-benar panas, tidak bersahabat. Di depan pasar besar itu tampak seorang ibu setengah baya dengan setumpuk besar dagangan di sampingnya. Ada 2 karung besar kol, setumpuk semangka di wadah besar yang terbuat dari anyaman bambu, 2 karung sedang bawang merah, 5 buah karung bawang putih 20-an kilo, dan berbagai macam sayuran lain di sampingnya. Wajahnya sudah cukup tua dengan beberapa garis kerut di keningnya. Mata agak sipit dengan rambut sedada yang diikat karet ke belakang.

“Ayo bapak, diturunin dong harganya! Saya kan beli banyak. Lebih 200 saja harganya.” Tawar ibu itu kepada seorang penjual kentang yang belum selesai bongkar dagangannya dari atas truk. Di sekitarnya banyak pedagang-pedagang lain yang juga bongkar barang dari atas truk. Ada yang bongkar beras, kentang, kacang, dan bahan kebutuhan yang lain untuk kemudian dijual. “Jangan dong bu, itu dah mepet dapetnya!” Jawab tangkulak kentang dengan nada tinggi. Maklum siang di pasar itu sangat berisik. Wanita setengah baya itu sejenak bepikir. Banyak sekali perhitungan yang ada dipikirannya. Perhitungan cepat seorang pedagang. Ongkos truk, susut busuk, ongkos becak, angetnya timbangan dan sebagainya. Wanita itu dengan sigap menawar lagi, “Oke pak, begini saja. Saya nambah 2 karung dan bapak turunkan harganya 100.” “Janganlah bu, masih belum cukup.” Ibu tersebut terus ngotot dan terus melobi lagi. “Nanti ongkos kuli bongkar saya tambahi 15.000.” Sahutnya. “Bapak kan baru ‘buka dasar’ ngga apa-apa lah.” Ia menambahkan. “Iya-iya bu silahkan.” Jawab tengkulak tersebut dengan nada yang terdengar setengah hati. Ibu tersebut akhirnya mendapat barangnya dengan harga lebih 100. Kalau kentang 3 karung ( 150 kg) dengan mengambil untung sekitar 1000 rupiah perkillonnya pada saat dijual lagi, ibu itu dapat untung kotor 150 rb. Biaya pengurang, termasuk susut busuk, kuli, dan tambahan 15.000 tadi, tak akan mungkin lebih dari 50.000. Jadi ia sudah dapat bersih minimal 100.000 rupiah. Itu sudah lebih dari setengah ongkos truk pulang nanti dan tinggal nyariin tambahan ongkos dan labanya dari dagangan lain.

Matahari sudah tergelincir ke arah barat belasan derajat, peluh mengalir di wajah ibu-ibu setengah baya itu. Dagangan yang dibeli sudah sangat banyak dan dia sudah cukup capek dari pagi berburu dagangan. Hampir semua uang sudah jadi barang dagangan, yang tersisa cuma uang untuk bayar kuli, becak, dan truk pulang. Dicarinya tukang becak untuk membawa dagangannya ke arah depan pasar. Di sanalah ia akan menunggu truk kosongan balik yang sebelumnya membawa cabai yang sudah menjadi langganannya.“Pak, becak pak, biasa yaa!” Sahutnya kepada salah seorang tukang becak. “oh, iya bu.” Jawab tukang becak tersebut. Tanpa komando lanjutan, Ia bergegas mencari 4 tukang becak lainnya mangangkut dagangan ibu tersebut. Tukang becak tersebut sudah hafal betul dengan sosok wanita setengah baya tersebut. Sambil menunggu tukang becak selesai dengan pekerjaannya,ibu tersebut sejenak istirahat untuk makan dan sholat. Dibukanya bekal yang ia masak dari rumah, ada nasi, barambang asem, telur, dan tempe goreng. Ia makan dengan lahap. Usai istirahat bergegaslah ia ke depan pasar menunggu truk langganannya. Duduklah ia dengan nyaman di atas karung bawang ditemani barang dagangannya sambil ngobrol dengan ibu-ibu pedagang yang lain. Obrolan khas ibu-ibu pedagang di pasar tradisional.

Tiga jam berlalu, truk balik yang dinanti tak kunjung datang. Ibu-ibu itu mulai gelisah. Wajahnya mulai tidak tenang. Saat itu belum ada namanya HT apalagi handphone, kepercayaan saja yang jadi andalan.”Duh Gusti, apa yang sebenarnya terjadi”, batin ibu tersebut.” Apa bannya bocor, apa mogok, apa ngga berangkat?” Terkanya. Ibu itu terus menunggu, berharap colt engkel tua langganannya segera kelihatan.

Matahari sudah hampir tenggelam, tinggal hitungan belasan menit. Truk balikan cabai yang sangat ditunggu belum juga kelihatan. Ibu setengah baya tersebut dengan sigap bergegas kembali ke dalam pasar, mencari-cari truk yang habis bongkar. Ia mencari truk yang akan pulang dan melewati desanya. Pasar suasananya sangat lelang. Aplagi ditempat bongkar muat tadi pagi. Di tempat itu hanya terlihat 2 truk semangka, 4 truk labu kuning, dan beberapa colt T 300 yang sedang bongkar jeruk. Rasa khawatir dan takut menyelimuti perasaan ibu tersebut. “Jangan-jangan bakal terjadi sesuatu yang buruk.” Resah ibu tersebut Sejenak ia menghela nafas, “Yakin saja kalau niatan kita baik tidak akan ada hal buruk yang menimpa.” Gumam ibu tersebut. Ia bertanya ke setiap supir truk yang ada di sana, menanyakan apakah bisa dimintai bantuan. Waktu sudah mau magrib dan ia belum dapat truk. Dagangan ngga mungkin diinapkan sehari disini. “Kalau dagangan dibawa besok, saya bakal rugi semuannya. Belum lagi anak saya yang masih kecil di rumah, pesanan langganan juga akan diamabil besok, saya sudah diandalkan, saya sudah dipercaya.” Batinnya. Beselang sesaat, matanya tertuju pada bangunan pasar lama yang cukup sepi. Ada beberapa truk bongkar terparkir di bawah menara pasar yang sudah rusak. Suasananya sedikit menakutkan, apalagi saat menjelang magrib seperti ini. Ibu setengah baya tersebut memeberanikan menuju ke sana.

Disana terlihat kumpulan laki-laki yang dari gelagatnya terlihat sepertai kumpulan sopir-sopir yang lepas bongkar. Telanjang dada, penuh keringat, badan yang kekar, asap rokok, dan wajah-wajah yang cukup seram. Tanpa tedeng aling-aling, ia mendatangi kumpulan sopir tersebut. Sekarang dihadapannya ada 5 orang sopir semuanya berkumis dan seram. Salah seorang diantaranya bebadan sangat gagah , kulit hitam dan rambut gondrong sebahu. Dari obrolan orang-orang tersebut, Ibu tersebut tahu betul kalau logat mereka adalah khas orang madura. Dia bertanya, “Mas nanti truknya pulang lewat jalur selatan ngga? Saya habis beli dagangan dan truk cabai yang biasa saya tumpagi ngga tahu kenapa ngga datang.” Wajah takut sangat jelas di wajahnya. “Jalur selatan mana bu?” Jawab salah seorang sopir dengan nada sedikit menggoda. Sopir yang lain hanya terlihat senyam-senyum saja. “Lewat mana itu bu’?” Tanya seorang sopir yang lain. “Lewat selatan ya lewat grobogan, cepu, terus bojonegoro tho mas. Masa sopir yang sudah biasa perjalanan jauh ngga tahu.” Jawab ibu itu cepat dan ketus. “Oh, iya kita tahu, tapi kita dari surabaya lewat pantura. Kalau mau nanti kita bantu, nanti saya akan lewat sana saja tak masalah. Kasihan ibu sendirian.” Sahut sopir yang berambut gondrong. Ibu itu diam sebentar sambil memandang ke arah sopir tersebut. “Ibu kok berani sendirian? Apa ngga punya suami? Kalau punya, suruh nemenin saja bu.” Lanjut sopir tersebut. “Ya tidak begitu dong mas” Sahutnya cepat. “Iya saya memang punya suami, punya anak yang masih kecil di rumah, tapi ngga begitu mas. Saya ini pedagang, saya sudah terbiasa kemana-mana untuk berdagang. Pedagang harus berani. Mas kira saya ngga pernah kemari ya, masnya salah kalu berpikir seperti itu.” Lanjut wanita setengah baya tersebut dengan tegas. “Hasilnya kan nanti juda buat anak-anak dan keluarga di rumah.” Tambahnya. Sopir-sopir itu hanya terdiam sejenak. Ibu tersebut menghela nafas. Dalam hatinya, Ibu tersebut bersyukur, walaupun tampang mereka sangar tapi hatinya baik dan mau membantunya. “Biasanya berapa mas bayarnya? Kalu sama truk cabai biasanya sampai rumah 150.000” tanya ibu tersebut. “Jangan dong bu’, 200.000 lah minimal.” Jawab salah seorang sopir. “Dagangan saya sedikit ko mas, jangan lah kalau 200, nanti ngga nyukupin buat ganti ongkosnya, belum lagi kulinya.” balas ibu tersebut. “waduh, gimana ya, kita juga mepet kalau segitu buat beli bensin, rokok, dan lainnya. Biasanya kami pulangnya bawa batu atau ngga pasir. Itupun kita dapat 250.” Balas sopir truk tersebut. Ibu itu sejenak terdiam. “Ya sudah bu, nanti waktu naik dan turun kita bantu nguli’in.” Lanjut sopir tersebut memberi tawaran lagi. “Hmmm truknya mas colt diesel 90 ya mas?” tanya ibu tersebut. “Iya ibu.” Timpal sopir tersebut. “Ok mas, 200, kita pulang jam berapa?” tanya ibu tersebut lagi. “Ba’da isya ibu, nanti saya bawa truknya ke depan pasar.” Jawab si sopir cepat. “ok mas, terima kasih.” Ucap ibu tersebut. Tap..tap..tap.. langkah ibu tersebut cepat. Ia bergegas meninggalkan bangunan pasar lama. Seperti ada sesuatu yang mau dikerjakan.

Breng..breng!!!! Breng.. breng!!! Suara truk colt diesel tahun 90-an keluar dari dalam pasar. Ibu tersebut tampak melihat dari kejauhan truk yang baru keluar tersebut. Diat telah menunggu di depan pasar lepas sholat isya. Waktu hampir mendekati pukul delapan, sudah saatnya pulang. Dia sudah tidak sabar sampai rumah. Orang rumah pasti khawatir menunggunya sejak sore. “Mas tolong semua dagangan segera dinaikkin ya, yang sebelah sana juga!” tukas ibu tersebut. Dagangan yang sebelumnya hanya 5 becak sekarang tiba-tiba ada tiga becak lagi yang datang. Sopir truk aga keheranan. Ia da kernetnya aga kualahan mengangkutnya ke dalam truk. Untung saja masih dibantu sama tukang becaknya. Selepas muat, truk langsung bergerak pulang ke arah timur. Dalam perjalanan, sopir nyelethuk, “Waduh ternyata dagangannya ibu banyak sekali, kirain cuma sedikit.” Ibu tersebut Cuma tersenyum. “Iya lah mas, ongkosnya kan 200, kalo saya ngandalin dagangan sedikit bisa-bisa ngga nyukupin. Bisa-bisa ngga dapet penghasilan. Saya kan masih harus nyekolahin anak. Saya kan cari tambahan buat bantu suami. Saya kan seorang pedagang mas. Saya sejak kecil sudah berdagang, saya diajari untuk cekatan dan inisiatif.” Jelas ibu tersebut sambil tersenyum. Sopir truk tersebut cuma tersenyum sendiri. “Oke mas buat tambahan ongkos capek, saya beliin rokok kalau nanti sudah sampai rumah. Tenang saja.” Tambah ibu tersebut.

Ternyata, selepas tawar menawar soal ongkos truk dan akhirnya disepakati harga 200, ibu tersebut bergegas menuju sebuah tengkulak buah. Ia sudah kenal betul dengan tengkulak tersebut. Sudah lama berlangganan. Ia ngutang 5 buah peti jeruk dengan berat sekitar 250 kg di sana. Tengkulak tersebut membolehkan ibu tersebut membawa barang dagangannya dulu. Tengkulak itu percaya ibu itu dagang dengan benar dan orangnya memang terkenal jujur. Baru kali ini juga ia terpaksa berhutang. Lumayan, kalau untung jeruk perkilonya 500 rupiah bakal minimal dapet untung kotor 125 ribu. Besihnya sekitar 90 ribu. Tambah perkirann untung dari kentang tadi pagi sudah bisa dapat 190 ribu. Itu tinggal sedikit sudah bisa nutup ongkos truk yang sampai 200 rb plus rokok sopirnya. Kasarnya masih bisa untung dagangan lainnya.

Pukul 11.00 malam ibu tersebut sampai di rumah dengan selamat. Suami dan anak-anaknya menyambutnya dengan gembira. Kekhawatiran sejak tadi sore hilang sudah. Ibu tersebut kini bisa melepas lelah. Merebahkan badan bersama anak-anaknya yang masih kecil. Esok hari telah menanti. Selepas subuh, ia sudah harus mulai menjajakan dagangannya dan sore hari, di hari setelah esok, ia sudah harus kembali menunggu truk cabai di depan pasar , pasar yang jauh dari rumahnya. Ibu tersebut terlihat begitu menikmatinya. Ia mencintai pekerjaannya. Benar, Ibu itu memang seorang pedagang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: