Oleh: donbull | September 16, 2011

Duda Hoki

Sa’id Bin Al Musayyab, seorang ilmuan besar dan imam masjid Nabawi, mempunyai seorang anak perempuan. Anak perempuannya nsangt termasyur karena kimanan dan keistiqomahannya menjalankan perintah Allah SWT dan Rasulullah.

Ketika Hisyam Bin Abdul Malik yang saat itu sedang menjadi khalifah mendengar berita anak perempuan tersebut, ia bermaksud melamarnya untuk anak yang akan menggantikannya kelak. Hisyam mengutus anak buahnya untuk bertemu Sa’id Bin Al Musayyab di madinah untuk menyampaikan maksudnya. Sa’id Bin Al Musayyab berkata pada utusan tersebut, “Sampaikan kepada khalifah bahwa saya menolak lamaran ini.” Utusan khalifah bertanya, “Kenapa engkau menolaknya?” Sa’id Bin Al Musayyab menjawab, “Sebab putra mahkota khalifah bukan orang yang baik akhlaqnya.”

Mulailah utusan khalifah itu mencoba membujuk Sa’id Bin Al Musayyab dengan iming-iming. Dia berkata, “Apakah engkau akan menolak kerajaan, kekayaan, kekuasaan, kedudukan dan harta?” Tetap saja Sa’id Bin Al Musayyab menolak dan berkata, “”Jika seluruh dunia tidak lebih dari satu sayap nyamuk di hadapan Alloh, seberapa ukuran kerajaan khalifah dalam ukuran sayap nyamuk itu?”

Mendengar jawaban Sa’id Bin Al Musayyab, utusan tersebut beralih mencoba menakut-nakuti, “Saya khawatir engkau akan mendapat dampratan dari khalifah.” Sa’id Bin Al Musayyab menjawab, “Alloh akan menolong orang-orang yang beriman.”

Selang beberapa hari setelah kedatangan utuusan khalifah, Sa’id Bin Al Musayyab meneruskan aktivitasnya mengajar murid-muridnya setelah sholat ashar di masjid Nabawi. Diantara murid-muridnya ada seorang muring yang sangat sholeh dan takwa. Nama pemuda itu adalah Abu Wada’ah. Abu Wada’ah sudah tiga hari tidak masuk untuk mengikuti kegiatan belajar bersama Sa’id Bin Al Musayyab.

Ketika melihat Abu Wada’ah hadir kembali di masjid, Sa’id Bin Al Musayyab bertanya, “Abu Wada’ah kemana saja kamu tiga hari ini?” Abu Wada’ah menjawab, “Istri saya meninggal dan saya sibuk mengurusinya. Semoga guru memahami.” Sa’id Bin Al Musayyab berkata, “Kenapa engkau tidak memberitahukan kepadaku? seandainya saya tahu pasti saya akan ikut melayat ke rumahmu.” Abu Wada’ah menjawab, “Saya khawatir mengganggu urusan dakwahmu. Sebab, dakwah lebih penting daripada mengurusi urusankau.”

Mendengar jawaban dari Abu Wada’ah, Sa’id Bin Al Musayyab bersyukur atas pemhaman yang dimiliki oleh Abu Wada’ah.Sa’id Bin Al Musayyab lalu berkata, “Apakah engkau menikah dengan wanita lain?” Abu Wada’ah menjawab, “Tidak tuan.” Sa’id Bin Al Musayyab lalu bertanya, ” Kenapa? Bukankah engkau tahu bahwa Allah tidak senang kepada seorang laki-laki yang tidur di malam hari tanpa dibarengi istrinya. Jika seorang laki-laki tidur di malam hari tanpa dibarengi istrinya maka syaitan berada disampingnya.” Abu Wada’ah berkata

“Adakah seseorang yang mau menikahkan anaknya denganku yang tidak mempunyai harta kecuali uang tiga dinar?” Sa’id Bin Al Musayyab menjawab, “Tentu saja ada.” “siapakah dia orangnnya wahai tuan guru?” Abu Wada’ah bertanya. “saya orangnya.” jawab Sa’id Bin Al Musayyab.

Abu wada’ah berpikir kalau Sa’id Bin Al Musayyab akan membantu biaya untuk menikah atau mau mencarikan wanita yang sama fakirnya untuk dinikahkan dengannya.Ternyata semua pikiran Abu Wada’ah salah. Sa’id Bin Al Musayyab tiba-tiba meletakkan tangannya di atas tangan Abu Wada’ah. Peristiwa ini disaksikan oleh semua orang yang hadir dalam masjid. Sa’id Bin Al Musayyab membaca bismillah dan alhamdulillah serta shalawat untuk Rasulullah dan kemudian berkata “Saksikan oleh kalian, wahai jama’ah muslimin bahwa saya menikahkan putriku dengan Abu Wada’ah sesuai kitab Alloh dan sunah Rasulullah dengan mahar tiga dirham.” Sa’id Bin Al Musayyab mengakhiri dengan shalawat kepada rasululllah dan memintakan taufik dan hidayah kepada Abu Wada’ah.

Setelah mengucapkan akad pernikahan, Sa’id Bin Al Musayyab menjelaskan tentang sebuah hadits yang disabdakan oleh Rasulullah, “Barang siapa menikahi perempuan karena kecantikannya, Allah tidak akan menambahkan kepadanya kecuali kerendahan. Orang yang menikahi perempuan karena hartanya, dia tidak akan bertambah apa-apa kecuali kefakiran. Oorang-orang yang menikahi perempuan karena keturunannya, ia tidak akan mendapatkan apapun kecuali kehinaan. Barang siapa menikahi perempuan karena agamanya, ia akan mendapatkan keberkahan dari Alloh.”

Sa’id Bin Al Musayyab mengakhiri pengajarannya dan pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah ia menemukan anaknya sedang membaca Al-quran. Ayat yang dibacanya adalah, Ya Allah berilah kami kebaikan di dunia ddan kebaikan di akhirat dan peliharalaah kami dari siksa neraka (QS. Al Baqarah 201. Dia berhenti di ayat itu. Lalu bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayah, kita tahu bahwa kebaikan di akhirat adalah surga. Kalau kebaikan di dunia apakah itu?” Sa’id Bin Al Musayyab menjawab, “Kebaikan di dunia itu , anakku, adalah suami atau istri yang shaleh. Sekarang Alloh telah menganugerahkan kepadamu suami yang shaleh, bersiaplah untuk menikah dengannya.”

Sorenya, sementara Abu Wada’ah sedang mempersiapkan makanan untuk berbuka,tiba-tiba pintu rumahnya ada yang mengetuk. Dia bertanya, “Siapakah di Luar?” Sa’id Bin Al Musayyab menjawab, “ini said, abu!” Ketika Abu Wada’ah membuka pintu, didapatinya Sa’id Bin Al Musayyab bersama dengan putrinya serta beberapa gadis yang membawakan hadiah dan makanan.

Abu Wada’ah berkata, “Kenapa engkau terburu-buru , wahai tuan guru?” Sa’id Bin Al Musayyab menjawab, “Abu Wada’ah, bukankah tadi saya berkata kepadamu bahwa Allah tidak senang kepada seorang laki-laki yang tidur sendirian tanpa dibarengi istrinya? Bukankah lelaki yang tidur sendirian ia didampingi oleh syaitan? Ini Istrimu. Semoga Allah memberkahimu dan memberkahinya.” Setelah itu Sa’id Bin Al Musayyab pulang kerumahnya dan meninggalkan anaknya bersama suaminya.

Setelah itu Abu wada’ah buru-buru menyembunyikan kacang, minyak, tepung gandum, dan kendi yang berisi air yang telah ia persiapkan untuk berbuka. Ia tidak apa yang dilihat pertama oleh Istrinya adalah sesuatu yang sangat sederhana.

Abu Wada’ah kemudian naik ke atas loteng dan berteriak, “Hai anu, hai anu!” Beberapa tetangga menjawab,” Ada apa Abu wada’ah?” Abu Wada’ah menjawab, ” Saksikankepada kalian bahwa Sa’id Bin Al Musayyab telah menikahkanku dengan putrinya. Sekarang dia telah berada di rumahku sejak malam ini. Jika kalian mendengar suara perempuan dari rumahku tolong jangan mempunyai prasangka tidak baik.” Beberapa tetanggannya malah menjawab, “Kamu ini bergurau, Abu Wada’ah!” Bahkan beberapa tetangganya ada yang bilang bahwa Abu Wada’ah telah gila. Bagaimana mungkin Sa’id Bin Al Musayyab menikahkan putrinya dengan Abu Wada’ah, putra mahkota aja ditolakya. Abu Wada’ah berkata, ” Demi Alloh Sa’id Bin Al Musayyab telah benar-benar menepati janjinya, sekarang putrinya ada di rumahku.” Beberapa laki-laki menyuruh istrinya untuk mengecek kebenaran tersebut di rumah Abu Wada’ah. Ternyata mereka benar-benar menemukan putri Sa’id Bin Al Musayyab di rumah Abu Wada’ah. lalu wanita-wanita itu kembali kepada suaminya dan memberitahukan kebenaran itu. Kemudian tetangga-tetangga datang ke rumah Abu Wada’ah untuk merayakan walimahan Abu wada’ah dengan putri Sa’id Bin Al Musayyab.

Setelah seminggu menjadi pengantin, Abu Wada’ah merasakan seolah-olah berada di Surga. Suatu sore ia meminta izin kepada istrinya untuk pergi. Istrinya berkata, “Mau kemana?”. Abu Wada’ah menjawab, “Untuk belajar dengan ayahmu, Sa’id Bin Al Musayyab.” Istrinya menjawab, ” Duduk di sini saja, saya akan ajarkan ilmu Sa’id Bin Al Musayyab kepadamu.”

Demikianlah, kami melihat bahwa orang-orang mukmin tidaklah menjadikan dunia dan isinya kecuali melakukan suatu amal/perbuatan yang di dalamnya terdapat keridhaan Alloh.

cerita dari imam gazhali

banyak pelajaran yang biusa diambil dari cerita di atas. Teringat hadits rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah

“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, sebab kecantikan itu akan lenyap dan janganlah kamu menikahi mereka karena hartanya, sebab harta itu akan membuat dia sombong. Akan tetapi nikahilah mereka karena agamanya, sebab seorang budak wanita yang hitam dan beragama itu lebih utama.”

Banyak orang yang menilai hanya dari cantiknya, harta, dan tidak jarang keturunannya. Boleh saja melihat cantik atau tampannya, tapi itu semua fana dan akan lapuk di makan waktu. Ketika sudah tua semua akan terlihat reot, penyot, dan kempot. Demikian juga dengan harta dan keturunan, harta bisa hilang dalam sekejap baik oleh bencana maupun musibah. Jika melihat keturunannya, apalah arti semua itu jika dibandingkan dengan hati yang baik, keyakinan yang kuat, dan akhlak yang mulia. Apalah artinya cantik jika akhlak buruk, hati busuk, perilaku terkutuk. Apalah arti tampan jika tak kuat keyakinan, hati ngga karuan, dan perilaku jauh dari ajaran islam.

Saya pernah mendengar perkataan, “Cobalah tanyakan kepada orang-orang yang telah berumah tangga selama puluhan tahun, tanyakan apakah masih sangat pentingkah penampilan fisik yang aduhai, cantik, ganteng, dan menarik dari pasangan mereka? atau lebih pentingkah kenyamanan hati yang timbul dari karakter dan perilaku baik pasangan masing-masing?”

Jangan pernah terburu-buru menilai orang lain, jangan -jangan kita salah menilainya, jangan-jangan nanti akan timbul penyesalan di kemudian hari. Setiap orang punya kriteria dan pandangan masing-masing. Itu hal wajar. Itu hak asasi masing-masing. Akan tetapi kita punya dasar-dasar agama dan contoh dari rasulullah yang alngkah indahnya jika kita mau mengikutinya sebagai wujud ke kaffah an kita dalam beragama


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: