Oleh: donbull | September 23, 2010

Wajah

Wajah, wajah, dan wajah. Hal yang berharga dari Sang Maha Pencipta yang kadang pemiliknya lupa apa hakikatnya. Hati dan tulang yang kemudian dibalut daging, urat, kulit dan darah. Disempurnakan dengan kerahiman-Nya sebagai sebagian perhiasan dunia. Dan kini ketika perjalanan kekal dimulai, wajah yang dulu menyejukkan pandangan kini tinggal tulang belulang. Saat tanah mengubur jasad, amanah dari apa yang diberikan kini dipersoalkan pertanggungjawabannya.

Dia berfirman

“Kemudian kamu PASTI akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan  yang kamu megah-megahkan” (At-takatsur:8)

Engkau yang setiap hari selalu melihatnya, Engkau tatap dengan lamat-lamat di depan cermin. Bagi mereka yang tampan dan rupawan hati bersemi rasa bangga dan bahagia. Bagi sebagian yang lain, yang kerahiman-Nya ada pada kesempurnaan sisi yang lain, hanya syukur Alhamdulillah untuk semua itu.

Sering Engkau menampilkanya dengan berbagai usaha yang berlebihan. Sepasang mata berbalut warna indah bak pelangi. Bulu-bulunya yang lentik yang kau buat menawan hati. Dua buah pipi merona ranum seperti senja, tak kalah ketinggalan dua bilah bibir merekah merah bak delima. Maka inilah wajah yang menghalangi fitrah ruhani untuk berlaku taat kepadanya.

Jangan. . . jangan Engkau khianati amanah Allah setelah Engkau nikmati pinjamannya.

Jangan Engkau jadikan sepasang mata yang telah Allah pinjamkan untuk melihat makhluk-Nya menjadi panah setan yang menusuk melalui kerlingan.

Jangan gunakan bibir Engkau yang Allah pinjamkan untuk bertasbih merintih berdoa kepada-Nya sebagai jaratan maksiat melalui manisnya senyuman.

Jangan. . .jangan khianati nikmat seraut wajah yang telah Allah pinjamkan untuk Engkau basahi dengan air wudlu dan derai air mata yang dilabuhkan di atas hamparan sajadah, menjadi wadah jatuhnya pandangan haram kaum laki-laki. Hanya untuk pujian semu dan kepuasan hawa nafsu.

Karena sesungguhnya matamu, pipimu, dan bibirmu masih punya hak untuk mengecap nikmatnya surge. Bukankah Allah telah menjajikan untukmu surge dengan segala kenikmatannya?

Inilah kerendahan wajah, seperti apa yang disampaikan kepada Ahnaf Bin Qias oleh pemuda rupawan dari Tailis. “Perhiasan wajahku hanyalah bila bercakap tidak berduata, jika berjanji aku tepati, dan jika diberi amanah aku tidak menghianati.

Runungilah kata-kata Ali bin Abi Thalib, “Telah kulihat wajahwajah para sahabat Nabi yang kini tiada lagi yang menyerupai, mereka yang keluar dengan rambut kusut, wajah menguning, berdebu dengan mata membengkak sebesar lutut kambing karena semalaman berdiri dan sujud, shalat malam seraya membaca Al-Qur’an dan menghadirkan telapak tangan silih berganti di tanah”

Jika tidak bisa kau taburi wajahmua denga ketaatan kepada-Nya maka hiasilah dengan malu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: