Oleh: donbull | Agustus 21, 2011

Sejarah Grafis Sebelum Kemerdekaan

poster kemerdekaan

boeng ayo boeng

1659
Mesin cetak pertama kali didatangkan ke Indonesia (Batavia) pada tahun 1659
Industri percetakan di wilayah Nusantara berkembang sejalan dengan penerbitan surat kabar dan buku yang diperkirakan berkembang sejak abad ke-17,
ketika mesin cetak pertama kali di datangkan ke pulau Jawa pada tahun 1659.
Karena tidak ada operatornya, mesin itu menganggur sampai berpuluh-puluh tahun.
Tujuan misionaris mendatangkan mesin cetak erat kaitannya dengan niat mereka untuk mencetak kitab suci dan buku-buku pendidikan Kristen.
Selain mencetak kitab suci, mereka juga menerbitkan surat kabar berhaluan pendidikan Kristen.

Mesin cetak merk ‘Faber & Schleider’ yang diduga diimpor pertama kali di wilayah Hindia Belanda.

Para pembaca koran berbahasa Belanda di Hindia Belanda
di awal-awal keberadaannya adalah orang-orang Eropa,
kalangan bumiputra yang menjadi priyayi, kaum Tionghoa (untuk keperluan dagang),
dan orang-orang indo/olanda.
Baru pemerintah jajahan di bawah Daendelslah yang berperan besar dalam urusan cetak-mencetak
dengan membentuk percetakan negara yang berurusan dengan mencetak peraturan-peraturan Belanda.
Maka mulailah dikenal surat kabar yang tidak hanya memuat informasi yang nilainya ekonomis, tetapi juga memuat peraturan-peraturan perundangan.

1744
Iklan pertama di Hindia Belanda: 17 Agustus 1744
Perintis tumbuhnya iklan di Hindia Belanda adalah Jan Pieterzoen Coen.

Dia pendiri Batavia dan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tahun 1619-1629.
PPPI (Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia) mengakuinya sebagai tokoh periklanan pertama di Indonesia.
Dalam masa pemerintahannya, ia mengirim berita ke pemerintah setempat di Ambon dengan judul Memorie De Nouvelles,
yang mana salinannya ditulis dengan tulisan tangan pada tahun 1621.
Tulisan tangannya yang indah ternyata merupakan refleksi dari naluri bersaing antara pemerintah Hindia Belanda dengan Portugis.
Kedua negara rupanya terlibat dalam perebutan hasil rempah-rempah dari kepulauan Ambon,
dan Jan Pieterzoen Coen ‘menulis’ iklan untuk melawan aktivitas perdagangan oleh Portugis.

INDUSTRI PERCETAKAN ABAD KE 18-20
Surat kabar yang pertama kali dicetak adalah De Bataviase Nouvelles terbit di Batavia pada tahun 1744,
kemudian De Locomotief terbit pada tahun 1852 di Semarang
dan Bataviassch Niewsblaad terbit di Batavia pada tahun 1885.
Dunia persuratkabaran milik warga pribumi adalah Bromartani
yang terbit di Surakarta pada tahun 1920-an.

1893
Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Percetakan Negara di Jakarta,
pada waktu itu yang terbesar di Asia.

1938
Pada tahun 1938 berdiri PERSAGI (Persatuan Akhli Gambar Indonesia) di Jakarta
dengan anggota kurang lebih tiga puluh pelukis
(di antaranya Agus Djaja sebagai ketua, S. Sudjojono, Abdul Salam, Sumitro, Sudibio, Sukirno, Suromo,
Surono, Setyosa, Herbert Hutagalung, Syoeaib, Emiria Sunasa, dan sejumlah seniman lainnya).
Serikat ini sering dianggap sebagai awal seni rupa modern Indonesia.

atas ke bawah : S. Sudjojono, Agus Djaja

1945
Poster “Boeng, ayo boeng!”
Ketika Republik Indonesia diproklamasikan 1945,
banyak pelukis ambil bagian.
Gerbong-gerbong kereta dan tembok-tembok ditulisi antara lain
“Merdeka atau mati!”.
Kata-kata itu diambil dari penutup pidato Bung Karno, 1 Juni 1945, “Lahirnya Pancasila”.
Saat itulah, Affandi mendapat tugas membuat poster.
Poster itu idenya dari Bung Karno,
gambar orang yang dirantai tapi rantai itu sudah putus.

Yang dijadikan model adalah pelukis Dullah.
Lalu kata-kata apa yang harus ditulis di poster itu?
Kebetulan datang penyair Chairil Anwar (1922-1949).

S Soedjojono menanyakan kepada Chairil, maka dengan ringan Chairil menyahut: “Bung, ayo bung!”
Dan selesailah poster bersejarah itu.
Sekelompok pelukis siang-malam memperbanyaknya dan dikirim ke daerah-daerah.
Darimanakah Chairil memungut kata-kata itu?
Ternyata kata-kata itu biasa diucapkan pelacur-pelacur di Jakarta yang menawarkan dagangannya pada zaman itu.

sumber http://dgi-indonesia.com
__________________

mantab, gambar (grafis) itu bisa menyampaikan pesan yang sering tidak tersampaikan dengan baik oleh tulisan maupun suara. Gambar pun bisa menimbulkan dampak tersendiri bagi yang melihatnya.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d bloggers like this: